IMM Maluku: Serangan terhadap Individu Jangan Dibungkus Isu Agama dan Suku


AMBON - BERITA MALUKU.
Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Maluku, Ahmad Sadam, menegaskan bahwa perbedaan pendapat maupun persoalan yang melibatkan individu tidak boleh digiring menjadi isu agama, suku, ras, maupun identitas kelompok. Menurutnya, cara seperti itu bukan hanya mengaburkan substansi persoalan, tetapi juga tidak mencerminkan karakter kader intelektual yang menjunjung tinggi etika, rasionalitas, dan integritas.


Di tengah ruang publik yang semakin dipenuhi beragam opini, Ahmad menilai kritik tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kritik harus dibangun di atas fakta, data, dan argumentasi yang objektif, bukan dengan memanfaatkan sentimen identitas untuk menyerang seseorang.


"Seorang kader intelektual seharusnya mampu membangun argumentasi berdasarkan fakta, data, dan nilai-nilai akademik, bukan membungkus persoalan individu dengan narasi agama maupun suku yang berpotensi menimbulkan polarisasi di tengah masyarakat," ujar Ahmad Sadam, Selasa (7/7/2026).


Ia mengatakan, penggunaan identitas keagamaan maupun kesukuan sebagai alat menyerang individu hanya akan mengalihkan perhatian dari persoalan yang sebenarnya. Kondisi tersebut juga berpotensi melahirkan prasangka, memperlebar perpecahan, dan memicu konflik sosial yang tidak perlu.


Menurut Ahmad, kualitas seorang kader tidak diukur dari kerasnya serangan terhadap individu, melainkan dari kemampuan menghadirkan solusi, gagasan, serta kritik yang membangun. Karena itu, setiap kritik harus disampaikan secara bertanggung jawab, proporsional, dan berlandaskan etika.


Ia mengingatkan bahwa Maluku memiliki sejarah panjang dalam menjaga perdamaian dan merawat semangat persaudaraan. Warisan tersebut, katanya, harus terus dijaga oleh seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda dan aktivis mahasiswa, agar ruang publik tetap sehat serta bebas dari provokasi yang memanfaatkan sentimen identitas.


"Nilai-nilai moderasi beragama, toleransi, dan semangat orang basudara harus terus menjadi fondasi dalam kehidupan bermasyarakat. Jangan sampai kepentingan sesaat justru mengorbankan persatuan yang telah dibangun dengan penuh pengorbanan," tegasnya.


Lebih lanjut, Ahmad mengajak seluruh kader organisasi kemahasiswaan, organisasi kepemudaan, maupun organisasi keagamaan untuk mengedepankan budaya dialog, berpikir kritis, dan menghormati perbedaan pandangan. Menurutnya, kedewasaan berpikir menjadi modal utama dalam membangun demokrasi yang sehat.


"Integritas seorang kader tercermin dari sikapnya dalam menyampaikan pendapat. Ketika kritik berubah menjadi serangan yang memanfaatkan isu agama dan suku, maka nilai-nilai intelektualitas telah ditinggalkan. Yang dibutuhkan hari ini adalah kedewasaan berpikir, bukan provokasi identitas," katanya.


Di akhir pernyataannya, Ahmad Sadam mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk bersama-sama menjaga persatuan, memperkuat budaya saling menghormati, serta menolak segala bentuk narasi yang dapat memecah belah kehidupan sosial. Menurutnya, menjaga harmoni dan semangat orang basudara merupakan tanggung jawab bersama demi mewujudkan Maluku yang damai, inklusif, dan berkemajuan.


Subscribe to receive free email updates: